TENTANG OBLIGASI RITEL INDONESIA (ORI)

Bookmark and Share
Di postingan kemaren bang peha memberikan tips financial planning,yang di mana dalam posting tersebebut bang peha menggunakan obligasi ritel indonesia sebagai instrumen dari perencanaan financial kita, nah melalui postingan ini bang peha akan sedikit memberikan pemahaman tentang ori tersebut, yang bang peha dapatkan dari salah satu situs berita, yang ditulis oleh Lin Che Wei, berikut penjelasannya:
Obligasi ritel adalah surat utang yang diterbitkan pemerintah dengan denominasi minimal Rp 5 juta, atau jumlah di atas itu dengan kelipatan Rp 5 juta. Sama halnya dengan obligasi biasa, ia memiliki bunga tetap, namun khusus untuk obligasi ritel ini pembayaran kupon dilakukan setiap bulan. Artinya, investor obligasi ritel dapat menikmati pendapatan bunga setiap bulan, seperti halnya pada deposito.

Secara tidak langsung ORI berupaya menarik minat bagi kalangan penabung yang selama ini menempatkan dananya dalam deposito. Pendapatan bunga yang diterima oleh investor, sama halnya dengan deposito, akan dikenai pajak penghasilan sebesar 20 persen.

Untuk membeli obligasi ritel, investor dapat menghubungi agen penjual. Ada 11 agen penjual yang telah dipilih pemerintah. Danareksa adalah salah satu di antara perusahaan yang menjadi agen penjual bersama dua perusahaan sekuritas lain, serta delapan bank.

Prosedur pembelian ORI tergolong mudah. Calon investor dapat membuka rekening di bank, mendaftar menjadi nasabah agen penjual, kemudian menyetor uang ke rekening agen penjual sesuai jumlah investasi yang dikehendaki. Setelah itu investor mengisi kelengkapan formulir pemesanan disertai lampiran fotokopi KTP.

Agen penjual akan memproses seluruh formulir pemesanan investor. Selanjutnya, pemerintah menetapkan hasil penjatahan kepada agen penjual mengenai investor yang memperoleh alokasi pembelian ORI.

Dua hari setelah penjatahan, agen penjual mesti menyetor dana ke rekening pemerintah sesuai hasil penjatahan. Bersamaan itu, agen penjual menyampaikan hasil penjatahan kepada masing-masing pemesan. Investor yang tidak mendapat alokasi penjatahan akan menerima uangnya kembali sehari sesudahnya atau tiga hari setelah pengumuman penjatahan.

Pada penawaran perdana, jangka waktu obligasi yang ditawarkan tiga tahun, lebih panjang dari tenor deposito yang paling lama, yakni dua tahun. Hal ini bukan berarti nasabah tidak bisa menarik dananya selama tiga tahun. Sebagaimana halnya obligasi, ORI merupakan surat utang yang dapat diperdagangkan. Investor dapat menjualnya sewaktu-waktu membutuhkan likuiditas.

Perdagangan obligasi di pasar sekunder akan dilakukan di bursa efek yang difasilitasi Bursa Efek Surabaya (BES). Investor yang ingin menjual ORI di pasar sekunder, menghubungi agen penjual dan menetapkan harga jual serta besarnya nilai obligasi yang akan dijual.

Dengan fasilitas perdagangan yang disediakan BES, ORI dapat dijual di bursa efek, tentunya mengikuti tata cara perdagangan yang berlaku di bursa efek. Misalnya, kuotasi harga yang ditetapkan dalam jarak interval tertentu, serta uang diperoleh dalam jangka waktu dua hari setelah transaksi dilakukan (T+2).

Agen penjual yang bonafid umumnya mau bertindak sebagai pembentuk harga (market maker). Artinya, agen penjual tersebut senantiasa menyediakan kuotasi harga beli dan harga jual yang bisa langsung dieksekusi oleh nasabah. Dengan menyediakan kuotasi harga beli atau jual, agen penjual tersebut tidak semata-mata bergantung pada kuotasi harga di bursa, tetapi juga bertanggung jawab meminimalisasi risiko likuiditas manakala tidak ada perdagangan di pasar sekunder. Semakin baik kuotasi harga beli atau jual, semakin baik pula kredibilitas agen penjual.

Pelajaran dan momentum

Belajar dari krisis reksa dana tahun silam, di mana banyak perusahaan melanggar peraturan Badan Pengawas Pasar Modal atau Bapepam, investor harus secara cermat memilih agen penjualan. Pemilihan agen penjual merupakan aspek yang cukup krusial dalam berinvestasi dalam ORI ini. Agen penjual bisa mengurangi risiko likuiditas dan memberi kenyamanan bagi nasabah pada saat membutuhkan likuiditas dan hendak menjual ORI yang dimilikinya.

Agen penjual yang kredibel tidak hanya bisa menjadi market maker, tetapi juga bisa memberi kuotasi harga beli atau jual yang efisien sehingga mengurangi ongkos transaksi di pasar sekunder. Pada gilirannya, ongkos transaksi perdagangan di pasar sekunder akan memengaruhi hasil investasi (return) yang diterima investor.

Prospek pergerakan suku bunga yang cenderung turun di masa mendatang menjadi momentum baik untuk membeli ORI. Secara teoretis, harga obligasi akan berbanding terbalik dengan suku bunga jangka pendek. Penurunan suku bunga jangka pendek (Sertifikat Bank Indonesia atau SBI) akan menguntungkan pemegang ORI yang memiliki suku bunga tetap selama umur obligasi yang tiga tahun. Oleh karena itu, harga ORI di pasar sekunder cenderung akan naik sehingga investor tidak saja menikmati kupon bulanan, tetapi juga berpotensi menikmati keuntungan modal (capital gain) karena harga obligasi tersebut meningkat.

Oleh karena itu, kiat yang mesti dicermati tentunya adalah pemahaman siklus pergerakan suku bunga jangka pendek. Umumnya, suku bunga jangka pendek bergerak mengikuti perkembangan ekonomi suatu negara. Saat ekonomi menguat dan ancaman inflasi meningkat, bank sentral akan berupaya menaikkan suku bunga untuk meredam laju pertumbuhan uang beredar dengan menaikkan suku bunga.

Sebaliknya, saat ekonomi bergerak menuju resesi dan ancaman inflasi reda, suku bunga jangka pendek biasanya bergerak turun.

Saat ini suku bunga SBI sudah turun 0,5 persen dari titik tertinggi sebesar 12,75 persen menjadi 12,25 persen. Namun demikian, tingkat bunga saat ini masih cukup tinggi dalam sejarah pergerakan suku bunga di Indonesia. Bank Indonesia telah memberi signal akan berupaya menurunkan suku bunga hingga ke tingkat 10 persen akhir tahun (jika inflasi terus turun—Red).

Penurunan suku bunga diharapkan dapat mempercepat upaya pemulihan ekonomi dan peningkatan kesempatan kerja. Menurut proyeksi Danareksa, peluang suku bunga turun hingga ke 10 persen sangat besar sehingga potensi kenaikan harga obligasi di masa depan masih juga cukup tinggi.

Investasi pada ORI diharapkan menjadi batu loncatan untuk memperkenalkan masyarakat kepada pilihan investasi lainnya dengan spektrum risiko yang lebih tinggi. Semoga ORI bisa memberi pelajaran bagi masyarakat atas pentingnya horizon investasi. Dengan memperpanjang horizon investasi dan mengenali risiko, masyarakat Indonesia bisa bertransformasi dari penabung menjadi investor. Transformasi ini secara makro- ekonomi dapat mempercepat proses akumulasi kekayaan suatu bangsa.


{ 1 comments... Views All / Post Comment! }

Syamsul Alam said...

ga mudeng...... hueheuheuheue........ nice info anyway.....

Post a Comment